INI AKU
Sudah cukup rasanya
semua sandiwaraku.
Sudah selesai sepertinya semua tawaku.
Aku yang sesungguhnya telah muncul.
Aku jenuh, harus tertawa dan menjadi pelawak untuk sesama, sementara tak satupun mengerti, betapa aku merasa sendiri.
Aku jengah harus berkata mesra dengan lawan jenis,namun sesunggguhnya menyembunyikan tangan yg terkepal keras. Aku mencoba membangkitkan cintaku lagi, tapi sepertinya aku gagal. Aku sangat dan terlalu tersakiti oleh kaum adam. "Mengampuni" itu hanya teori. Aku bukan malaikat yg sebegitu mudahnya mengembalikan lagi puing2 retakan hati yg terkoyak. Jangan salahkan aku jika aku seperti ini. Jangan juga berusaha mencari tahu tentang aku lewat orang lain. Aku tak akan memandang lagi sebelah mata padamu jika itu kau lakukan.
Kerasnya hidup membentukku seperti ini. Namun jika hatimu, jiwamu mampu mengertiku, aku tak lebih dari seonggok patahan sayap dan hatiku terbuat dari kapas putih yang mudah menguap dan menghilang. Maafkan aku jika aku telah gagal menjadi sahabat dan saudara bagi kalian. Namun aku tak mau gagal untuk selalu berbuat kebaikan. Semoga ......
Stranvagen-Stockholm 23 Agustus 2011
Sudah selesai sepertinya semua tawaku.
Aku yang sesungguhnya telah muncul.
Aku jenuh, harus tertawa dan menjadi pelawak untuk sesama, sementara tak satupun mengerti, betapa aku merasa sendiri.
Aku jengah harus berkata mesra dengan lawan jenis,namun sesunggguhnya menyembunyikan tangan yg terkepal keras. Aku mencoba membangkitkan cintaku lagi, tapi sepertinya aku gagal. Aku sangat dan terlalu tersakiti oleh kaum adam. "Mengampuni" itu hanya teori. Aku bukan malaikat yg sebegitu mudahnya mengembalikan lagi puing2 retakan hati yg terkoyak. Jangan salahkan aku jika aku seperti ini. Jangan juga berusaha mencari tahu tentang aku lewat orang lain. Aku tak akan memandang lagi sebelah mata padamu jika itu kau lakukan.
Kerasnya hidup membentukku seperti ini. Namun jika hatimu, jiwamu mampu mengertiku, aku tak lebih dari seonggok patahan sayap dan hatiku terbuat dari kapas putih yang mudah menguap dan menghilang. Maafkan aku jika aku telah gagal menjadi sahabat dan saudara bagi kalian. Namun aku tak mau gagal untuk selalu berbuat kebaikan. Semoga ......
Stranvagen-Stockholm 23 Agustus 2011
AKU TAKUT TERLUKA
Seperti yang
sudah-sudah kembali ku terpaku merenungi kelemahanku.Menyesali keputusanku yang
salah.Tuhan seandainya di ijinkan untuk merajut kembali benang masa lalu yang
telah terputus, akan kulakukan itu.
Teringat dulu mantapnya langkahku untuk menempa segudang ilmu kerohanian di seminari biarawati di Magelang. Jiwaku nyaman di tempat itu.Namun hal itu tak berlangsung lama. 12 bulan ku tata hatiku di istana keheningan dan kedamaian tersebut, walaupun sanubari terdalamku sering menjerit : "Kamu berdosa Nik, kamu hanya berkonpensasi dengan kehilanganmu terhadap orang2 yang kamu sayangi."
Sungguh, saat itu laksana selaksa godam palu menghantam kesadaranku. Di penghujung tahun, kutinggalkan seminari biarawati tersebut dengan sejuta galau dan gusar.Kupasrahkan jejakku dituntun oleh-NYA. Sebenarnya berat hati meninggalkan asrama yang telah begitu dalam mengajarkanku bagaimana melupakan kebutuhan duniawi, membuang jauh2 kedagingan. Seiring dengan rasa bersalahku, aku harus mengambil keputusan dan menentukan langkah, keluar dari sekolah biarawati itu dan kembali ke dunia nyata.
Itu selintas masa lalu, kini aku terduduk di tepi jendela kamarku, menatap kosong ke hamparan tanah lapang. Beribu dera berkecamuk di benakku. Terbersit tanya, apakah aku wanita normal Tuhan ? Kadang aku mampu bahagia menikmati hati berbunga penuh cinta, tapi terkadang aku bosan dan selalu ingin menyendiri dan menyepi. Aku memang tak suka dengan keramaian. Aku benci keglamouran. Sedari dulu, walaupun tak habis kekayaan turun temurunku, tapi yang sangat kukagumi dari didikan dan ajaran kedua orangtuaku adalah : "Hiduplah dikelilingi dengan kesederhanaan, karena itu yang terindah di mata Tuhan" Kata2 dari bibir mam yang tak pernah pupus di otakku.Memang, mam & dad sangat keras mendidikku. Tak jarang aku harus tertidur di teras semalaman karena selepas magrib masih melalangbuana di jalanan bersama teman2.Itu dulu. Kini posisi mam & dad telah tergantikan oleh kakak2ku. Aku tak keberatan mereka memingitku, karena memang sudah mendarah daging hobbyku di dalam kamar sendiri bergelut dengan tumpukan buku, fb dan alunan musik klasik kesukaanku. Tetapi jika boleh jujur, aku butuh seseorang sebagai tempat curhatku.Kembali tentang curhat, mungkin sebagian orang, fb bagi dia adalah tempat untuk menyalurkan keisengan. Namun tidak bagiku. Disetiap hentakan status dan ppku, itulah aku yang sebenarnya. Hanya fb lah yang menghiburku. Menanggapi komen2 para sahabat dan murid, suatu kesenangan tersendiri buat hatiku.
Kini, aku seorang Nikita yang seringkali melakukan kesalahan pada sesama, khususnya kaum Adam. Kerapkali caraku salah dan membuat mereka kebanyakan kecewa. Aku, seorang Nikita yang sesungguhnya ingin membahagiakan orang yang ku sayangi, namun selalu dan selalu tak pernah sempurna.Seandainya kalian tahu, terlalu lama aku sendiri,hingga mungkin rasaku telah pudar, atau bahkan telah mati ?
Dan kini, aku seorang Nikita yang jika berkumpul dengan sesama rekan kerja,kuliah atau sepermainan selalu menghadirkan tawa buat dunia. Pengobat kejenuhan buat yang alami kebosanan.Tapi mengertikah dunia? Jika di balik tawa canda ngakakku ada segelintir kehilangan yang tak mampu kuhapus hingga sekarang? Tahukah dunia ada sejuta tangis yang tersisa di tatapan mataku? Tetapi semua ini pun kupahami, betapa segala yang terjadi adalah keinginanku sendiri. Ingin ku selalu sendiri walau itu sakit. Ingin ku menyepi walau itu perih. Setimbun keinginan dalam batas ambang sadar yang tak harusnya kunikmati. Ya, satu yang sesungguhnya hadir dinuansa kepedihan dan keinginan. "AKU TAKUT TERLUKA"
Jakarta, 17 Mei 2011.
***Seiring permintaan maafku untuk yang pernah tersakiti dan terkecewakan tanpa kusadari.
Teringat dulu mantapnya langkahku untuk menempa segudang ilmu kerohanian di seminari biarawati di Magelang. Jiwaku nyaman di tempat itu.Namun hal itu tak berlangsung lama. 12 bulan ku tata hatiku di istana keheningan dan kedamaian tersebut, walaupun sanubari terdalamku sering menjerit : "Kamu berdosa Nik, kamu hanya berkonpensasi dengan kehilanganmu terhadap orang2 yang kamu sayangi."
Sungguh, saat itu laksana selaksa godam palu menghantam kesadaranku. Di penghujung tahun, kutinggalkan seminari biarawati tersebut dengan sejuta galau dan gusar.Kupasrahkan jejakku dituntun oleh-NYA. Sebenarnya berat hati meninggalkan asrama yang telah begitu dalam mengajarkanku bagaimana melupakan kebutuhan duniawi, membuang jauh2 kedagingan. Seiring dengan rasa bersalahku, aku harus mengambil keputusan dan menentukan langkah, keluar dari sekolah biarawati itu dan kembali ke dunia nyata.
Itu selintas masa lalu, kini aku terduduk di tepi jendela kamarku, menatap kosong ke hamparan tanah lapang. Beribu dera berkecamuk di benakku. Terbersit tanya, apakah aku wanita normal Tuhan ? Kadang aku mampu bahagia menikmati hati berbunga penuh cinta, tapi terkadang aku bosan dan selalu ingin menyendiri dan menyepi. Aku memang tak suka dengan keramaian. Aku benci keglamouran. Sedari dulu, walaupun tak habis kekayaan turun temurunku, tapi yang sangat kukagumi dari didikan dan ajaran kedua orangtuaku adalah : "Hiduplah dikelilingi dengan kesederhanaan, karena itu yang terindah di mata Tuhan" Kata2 dari bibir mam yang tak pernah pupus di otakku.Memang, mam & dad sangat keras mendidikku. Tak jarang aku harus tertidur di teras semalaman karena selepas magrib masih melalangbuana di jalanan bersama teman2.Itu dulu. Kini posisi mam & dad telah tergantikan oleh kakak2ku. Aku tak keberatan mereka memingitku, karena memang sudah mendarah daging hobbyku di dalam kamar sendiri bergelut dengan tumpukan buku, fb dan alunan musik klasik kesukaanku. Tetapi jika boleh jujur, aku butuh seseorang sebagai tempat curhatku.Kembali tentang curhat, mungkin sebagian orang, fb bagi dia adalah tempat untuk menyalurkan keisengan. Namun tidak bagiku. Disetiap hentakan status dan ppku, itulah aku yang sebenarnya. Hanya fb lah yang menghiburku. Menanggapi komen2 para sahabat dan murid, suatu kesenangan tersendiri buat hatiku.
Kini, aku seorang Nikita yang seringkali melakukan kesalahan pada sesama, khususnya kaum Adam. Kerapkali caraku salah dan membuat mereka kebanyakan kecewa. Aku, seorang Nikita yang sesungguhnya ingin membahagiakan orang yang ku sayangi, namun selalu dan selalu tak pernah sempurna.Seandainya kalian tahu, terlalu lama aku sendiri,hingga mungkin rasaku telah pudar, atau bahkan telah mati ?
Dan kini, aku seorang Nikita yang jika berkumpul dengan sesama rekan kerja,kuliah atau sepermainan selalu menghadirkan tawa buat dunia. Pengobat kejenuhan buat yang alami kebosanan.Tapi mengertikah dunia? Jika di balik tawa canda ngakakku ada segelintir kehilangan yang tak mampu kuhapus hingga sekarang? Tahukah dunia ada sejuta tangis yang tersisa di tatapan mataku? Tetapi semua ini pun kupahami, betapa segala yang terjadi adalah keinginanku sendiri. Ingin ku selalu sendiri walau itu sakit. Ingin ku menyepi walau itu perih. Setimbun keinginan dalam batas ambang sadar yang tak harusnya kunikmati. Ya, satu yang sesungguhnya hadir dinuansa kepedihan dan keinginan. "AKU TAKUT TERLUKA"
Jakarta, 17 Mei 2011.
***Seiring permintaan maafku untuk yang pernah tersakiti dan terkecewakan tanpa kusadari.
Nikita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar